Syal Hijau Nanggala V

Andi Widjajanto Telaah Kebijakan Rabu, 10 Desember 2025
Unduh Publikasi
img
Penulis :
img
Penasihat Senior

Hari ini, 50 tahun lalu, 10 Desember 1975, Lettu Luhut Pandjaitan memimpin Kompi Alpha Nanggala V melakukan operasi terjun tempur untuk merebut Kota Baucau. Di sampingnya, Mayor Theo Syafei, Kasi Operasi Grup 1 Kopassandha, duduk dengan rahang mengeras. Di dalam perut Hercules yang bising itu, tidak ada banyak percakapan. Mereka berdua, Mayor Theo dan Lettu Luhut, disatukan oleh satu tekad yang lebih keras dari baja pesawat yang membawa mereka: menutup kegagalan terjun tiga hari lalu di Dili dengan keberhasilan tuntas merebut Baucau. 

Bagi Mayor Theo, penerjunan ini bukan sekadar aksi fisik. Sebagai perwira penghubung antara Kopassandha dan Mabes ABRI, dialah yang memanggul beban perencanaan di atas kertas. Dia tahu betul analisis intelijen Mayor Jenderal L.B. Moerdani—Komandan Grup 1 Kopassandha yang pertama—yang telah memperingatkan bahwa “Timor bukan tanah kosong”. Namun, hari ini, kertas rencana itu harus diterjemahkan menjadi pendaratan nyata. 

Lampu hijau menyala. Angin menderu. Luhut dan Theo melompat. Kali ini, tidak ada putar balik. 

Namun, bumi yang menyambut mereka bukanlah tanah lapang. Baucau menyambut Nanggala V dengan hamparan batu karang yang tajam. Saat sepatu lars menghantam tanah, terdengar bunyi yang mengerikan—bukan ledakan granat, melainkan bunyi tulang yang beradu dengan karang. Banyak anggota Nanggala V, termasuk perwira, menderita patah kaki seketika saat mendarat. 

Rasa sakit itu nyata. Namun, di antara bebatuan karang itu, mereka merayap dengan kaki remuk, menahan sakit demi merebut bandara dan kota. Mereka bertempur untuk membayar utang kepada sejarah yang baru saja tertulis dengan darah tiga hari sebelumnya. 

Utang itu memang bermula di Dili, atau mungkin lebih jauh lagi, di Madiun. Di Landasan Iswahyudi, Madiun, sebelum gemuruh mesin dimulai, ada sebuah momen hening. Mayor Atang Sutresna, Komandan Detasemen Tempur Nanggala V, menyerahkan sebuah syal hijau kepada Lettu Luhut. “Titip ini,” katanya. Mayor Atang hendak berwudhu. Sebuah wudhu terakhir. Lulusan Akademi Militer 1965 itu mungkin sudah merasakan firasat kematian yang mengintip dari balik awan. Dia terjun memimpin pasukannya, menyongsong takdir di Istana Presiden Dili. Mayor Atang Sutresna gugur di sana, dan syal hijau itu tak pernah kembali.

Di pesawat lain, Kompi Alpha yang dipimpin Lettu Luhut bersama Mayor Theo bersiap terjun. Namun, analisis dingin LB Moerdani terbukti benar. Pasukan Tropaz di bawah, yang mendapat pelatihan militer Portugal dengan standar NATO, memiliki disiplin tinggi. Senjata anti-pesawat menyalak galak. 

Jump Master di pintu pesawat rubuh seketika. Darah tercecer di lantai logam. Beberapa prajurit Kompi A gugur bahkan sebelum kaki mereka menyentuh tanah, tubuh mereka terkoyak saat masih melayang di udara, menjadi sasaran empuk di kanvas langit. 

Pesawat Hercules yang membawa Kompi Alpha, tempat Mayor Theo berada, tertembak. Asap mengepul. Tidak ada jalan untuk terjun. Sang pilot memutar kemudi, memaksa burung besi yang berlubang itu kembali ke Kupang. 

Itu adalah kegagalan yang menyelamatkan nyawa, namun meninggalkan rasa getir yang mendalam bagi mereka yang harus kembali sementara rekan-rekan mereka bertaruh nyawa di bawah. 

Jauh dari desing peluru, di komplek perumahan Kopassandha, Cijantung, perang jenis lain sedang berlangsung. Perang sunyi di ruang tamu. Desember 1975 adalah bulan kelabu. Hujan turun seolah hendak menghapus jejak, membawa aroma tanah basah yang menyengat. 

Saat itu bagi saya, seorang bocah berusia empat tahun, suara yang paling menakutkan bukanlah petir, melainkan deru mesin jip Polisi Militer. 

Setiap kali jip itu melintas pelan, diikuti mobil berisi dokter dan suster, jantung para ibu di kompleks itu berhenti berdetak. Kami, anak-anak, hanya bisa mengintip dari balik tirai. Jika jip itu berhenti, tangisan akan pecah. Itu berarti Operasi Seroja telah mengambil satu lagi nyawa. 

Di sinilah ironi nasib bermain dengan kejam. Ibu saya, yang juga seorang Kowad berpangkat Lettu, duduk bersama Nyonya Atang Sutresna. Nyonya Atang tersenyum tipis, meminum tehnya, berkata dengan lega bahwa Dili sudah dikuasai. Dia tidak tahu bahwa suaminya gugur saat merebut istana. Dia tidak tahu syal hijau suaminya kini tak bertuan. 

Dan Ibu saya? Dia hanya diam, menatap hujan. Dia tidak tahu pesawat suaminya ditembaki dan harus putar balik. Dia tidak tahu suaminya kini sedang merayap di karang Baucau. Ketidaktahuan adalah tamu yang duduk di antara mereka, meminum teh yang sama. 

Baru pada Januari 1976, Danjen Kopassandha, Brigjen Yogie Suardi Memet datang. Dia tidak membawa kabar kematian, namun membawa kalimat yang sama menyiksanya: “Kami tidak tahu apakah Theo masih hidup.” 

Lima puluh tahun kemudian, Reuni 50 Tahun Nanggala V, Jakarta, 8 Desember 2025. Di ruang itu, waktu seolah melipat dirinya sendiri. Udara di kantor Pak Luhut terasa sejuk, kontras dengan panas Jakarta di luar yang tak kenal ampun. Di sana duduk dua purnawirawan Baret Merah, perwira terakhir dari Detasemen Nanggala V: Jenderal (Purn) Luhut Pandjaitan dan Mayor Jenderal (Purn) Ilyas Yusuf. Di sekeliling mereka, dua puluh delapan purnawirawan tamtama dan bintara yang kini wajahnya telah dipahat oleh usia, duduk dengan takzim namun hangat. Hadir juga empat istri perwira Nanggala V lulusan Akademi Militer 1965 : Ibu Atang Sutresna, Ibu Atang Sanjaya, Ibu Ilyas Yusuf, dan Ibu Theo Syafei. Mereka adalah saksi hidup bagi total 298 anggota Detasemen Nanggala V yang ditugaskan ke Timor Timur untuk menggelar salah satu operasi gabungan terbesar Indonesia. 

Mereka tertawa melepas kangen persahabatan puluhan tahun, namun mata mereka tidak selalu ikut tersenyum. Ada bayangan di sana. Bayangan 298 orang yang pernah berangkat bersama, namun tidak ikut duduk di ruangan ini. 

Saya hadir menemani Ibu saya, Suismiati Theo Syafei. Saya bukan tentara. Saya hanyalah seorang anak kolong yang tumbuh di sela-sela sepatu lars dan bau minyak senjata. Saya hanyalah seorang bocah yang tumbuh besar di Cijantung dan sempat bersekolah di SDN 8 Dili Timor Timur yang berusaha mencari jejak loreng darah Baret Merah. 

Hari itu, saya dan ibu saya berangkat satu mobil bersama Pak Ilyas Yusuf dan istrinya dari rumah Cilangkap, dekat Mabes TNI. Di tempat reuni, saya memandang mereka, tamtama, bintara, dan perwira Nanggala V, mencari memori bayangan ayah saya di diri mereka. 

Hari itu, 8 Desember 2025 adalah reuni Nanggala V. Setengah abad. Namun saat Pak Luhut berbicara, suaranya sedikit bergetar, seolah tidak sedang berada pada tahun 2025, melainkan kembali mencium bau avtur yang menyengat di dalam perut besi Hercules. 

Saya hadir di sana bersama tiga perwira dari Grup 1 Kopassus. Kami menundukkan kepala, memberi hormat bukan kepada pangkat, tapi kepada narasi pengabdian yang mengalir kuat di ruangan itu. Narasi pengabdian yang tidak putus sejak Letnan Kolonel

Sugito menjabat Dan Grup 1 Kopassandha yang secara senyap menyiapkan Nanggala V untuk diterjunkan sebagai ujung tombak perebutan Dili. 

Saat Pak Luhut bercerita, matanya menerawang. Seolah-olah dia masih memegang syal hijau milik Mayor Atang Sutresna. Saya melihat Pak Luhut menatap saya. Tatapannya dalam, seolah dia melihat kembali Mayor Theo Syafei, komandannya, sahabatnya, sekaligus perencana yang lolos dari maut bersamanya. Seolah-olah dia kembali melihat Mayor Theo di sampingnya di pesawat menuju Baucau. 

Sejarah mencatat kemenangan operasi. Buku-buku mencatat detail tanggal dan jam pertempuran terjadi. Namun akhirnya saya mengerti, narasi sesungguhnya melekat kuat bukan kepada ledakan besar, melainkan kepada detail kecil yang tertinggal. Kepada syal hijau yang tak kembali. Kepada kaki yang pincang karena karang Baucau. Kepada loreng darah Kopassandha yang terkoyak di langit Dili. Kepada bocah-bocah kecil yang tumbuh dewasa menahan napas setiap melihat mobil polisi militer. 

Reuni ini bukan sekadar cerita nostalgia tentang kerumitan operasi gabungan terbesar itu. Ini adalah prosesi ritual untuk menolak lupa. Untuk Mayor Atang Sutresna dan syal hijaunya. Untuk Jump Master yang gugur di pintu pesawat. Untuk 298 pasukan Nanggala V yang berhasil menembus prediksi intelijen yang kelam. 

Saya menatap mata Pak Ilyas dan Pak Luhut. Di sana, Operasi Seroja tidak pernah benar-benar berakhir. Pesawat Hercules itu masih terbang, berputar-putar di kepala mereka, mencari tempat pendaratan yang aman, untuk jiwa-jiwa Nanggala V, selamanya.
HISTORIOGRAFI NANGGALA V

Tulisan personal saya dalam narasi “Syal Hijau Nanggala V” berusaha merekam dinamika Operasi Seroja oleh Detasemen Tempur Nanggala V pada Desember 1975. Narasi tersebut menyoroti interseksi antara strategi militer makro dan pengalaman mikro para prajurit di lapangan, serta dampaknya terhadap lingkungan sosial keluarga militer. Fokus tulisan mencakup aspek operasional, intelijen, dan psikososial yang melingkupi perebutan Kota Baucau dan Dili, menempatkan narasi personal sebagai pelengkap bagi historiografi militer formal. 

Dinamika Operasional dan Realitas Medan 

Pada 10 Desember 1975, Kompi Alpha Nanggala V di bawah pimpinan Lettu Luhut Pandjaitan melaksanakan operasi lintas udara untuk merebut Baucau sebagai upaya penebusan atas kendala operasional di Dili tiga hari sebelumnya. Mayor Theo Syafei selaku perencana operasi dihadapkan kepada friksi medan tempur ketika area pendaratan ternyata berupa hamparan karang tajam, bukan tanah lapang yang ideal. Kondisi geografis yang tidak terduga ini mengakibatkan cedera masif non-kombatan berupa patah tulang saat pendaratan, namun pasukan tetap menunjukkan adaptabilitas taktis tinggi dengan terus bermanuver dalam kondisi cedera demi mengamankan objektif strategis dan membayar utang sejarah kepada rekan yang gugur. 

Validitas Intelijen dan Penilaian Ancaman 

Aspek intelijen dalam operasi ini menunjukkan validitas peringatan strategis Mayor Jenderal L.B. Moerdani bahwa wilayah operasi memiliki tingkat ancaman tinggi dan bukan merupakan tanah kosong. Pasukan Tropaz teridentifikasi memiliki disiplin dan kualifikasi tempur standar NATO yang terbukti melalui efektivitas pertahanan udara mereka di lapangan. Akurasi penilaian ancaman ini terkonfirmasi secara faktual ketika tembakan antipesawat menggugurkan personel di pintu pesawat dan memaksa pesawat Hercules yang membawa perencana operasi untuk membatalkan penerjunan dan kembali ke pangkalan demi keselamatan tim. 

Dimensi Psikososial dan Jiwa Korsa

Solidaritas militer termanifestasi dalam simbolisme syal hijau yang diserahkan Mayor Atang Sutresna kepada Lettu Luhut sebagai representasi amanah dan ikatan persaudaraan yang melampaui kematian. Di ranah domestik, terjadi fenomena perang sunyi di mana keluarga prajurit hidup dalam ketidaktahuan akan nasib suami mereka, sementara kedatangan kendaraan Polisi Militer menjadi simbol teror psikologis yang menandakan gugurnya personel. Ketabahan dan trauma kolektif yang ada di lingkungan militer menjadi elemen integral yang membentuk identitas sosial komunitas tersebut. 

Penutup

Secara keseluruhan, narasi  “Syal Hijau Nanggala V” menegaskan bahwa esensi sejarah Operasi Seroja tidak hanya terletak pada pencapaian taktis semata, melainkan pada pengorbanan manusiawi dan detail emosional yang sering kali luput dari catatan resmi. Reuni 50 tahun Nanggala V pada 8 Desember 2025 berfungsi sebagai ritual institusional untuk menolak lupa, mengabadikan narasi pengabdian prajurit dan keluarga yang melampaui batasan waktu dan pangkat.