Halaman Pencarian

img
Senin, 21 November 2022

Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis Tiongkok dan Maknanya bagi Indonesia

Pasca Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis Tiongkok (PKT), kekuasaan politik Xi Jinping menjadi sangat terkonsolidasi. Dalam hal ini, faksionalisasi politik dalam kepemimpinan puncak, sebagaimana tercermin dalam komposisi anggota Politbiro Standing Committee dan Politbiro, menjadi tidak signifikan.

Laporan Kongres Nasional Ke-20 PKT menunjukkan bahwa terdapat penekanan pada empat hal berikut: (1) keamanan nasional, (2) persepsi ancaman eksternal, (3) kemandirian nasional, dan (4) ideologi. Temuan ini menyarankan bahwa terdapat penguatan rasa tidak aman (insecurity) di dalam tubuh partai.

Terkait kebijakan zero-Covid, Tiongkok tampak mulai mengambil langkah-langkah untuk secara bertahap melonggarkan pembatasan-pembatasan. Perlu dicatat bahwa faktor ekonomi dan politik saling berkelindan dalam urusan penanganan pandemi Covid-19 di Tiongkok. Akibatnya, akhir dari kebijakan zero-Covid masih akan memerlukan waktu yang tidak sedikit.

Dalam periode ketiga kepemimpinan Xi, pilihan-pilihan kebijakan luar negeri Tiongkok akan cenderung berkesinambungan dengan inisiatif-inisiatif yang diperkenalkan pada satu dekade sebelumnya. Hal ini demi mewujudkan ambisi besar Xi Jinping dalam menjadikan Tiongkok sebagai salah satu aktor global yang paling signifikan. Kesinambungan akan nyata dalam pilihan-pilihan kebijakan pelibatan (engagement) dengan negara-negara berkembang, kebijakan ekonomi internasional, dan pendekatan terhadap Isu Laut Tiongkok Selatan.

Namun, perlu dicatat bahwa Tiongkok akan cenderung semakin asertif dalam menghadapi tantangan-tantangan eksternal. Dalam hal ini, dunia perlu mengantisipasi tindakan-tindakan yang mengarah pada penggelaran kekuatan militer dalam merespons permasalahan Taiwan dan intensifikasi rivalitas Tiongkok-Amerika serikat, utamanya dalam bidang sains dan teknologi.

Dengan temuan-temuan di atas, kebijakan luar negeri Tiongkok dalam periode ketiga kepemimpinan Xi akan menghadirkan situasi yang rumit bagi Indonesia. Indonesia perlu mengantisipasi situasi lingkungan internasional yang semakin tidak menentu, yang utamanya dibentuk oleh dinamika persaingan strategis Tiongkok-Amerika Serikat. Di sisi lain, dalam konteks persaingannya dengan Amerika Serikat, Tiongkok akan terus berusaha untuk memperluas pengaruh geopolitiknya dengan menawarkan berbagai inisiatif-inisiatif kerja sama, termasuk dalam bidang ekonomi. Hal ini juga dapat dimanfaatkan untuk melayani kepentingan nasional Indonesia.

Selain dilandasi oleh pragmatisme ekonomi, usaha Indonesia melakukan pelibatan terhadap Tiongkok dapat pula diarahkan untuk mendorong Tiongkok agar lebih menunjukkan kepatuhan kepada hukum dan norma internasional–yang  sesungguhnya adalah salah satu bagian penting dari ekspresi kebijakan luar negeri Indonesia itu sendiri.

img
Jum'at, 11 November 2022

Makna Kongres Nasional Ke-20 Partai Komunis Tiongkok bagi Indonesia

Pasca Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis Tiongkok (PKT), kekuasaan politik Xi Jinping menjadi sangat terkonsolidasi. Dalam hal ini, faksionalisasi politik dalam kepemimpinan puncak, sebagaimana tercermin dalam komposisi anggota Politbiro Standing Committee dan Politbiro, menjadi tidak signifikan.

img
Sabtu, 29 Oktober 2022

Ekonomi Hijau dalam Visi Indonesia 2045

Seluruh negara tengah menghadapi krisis planet (planetary crisis) yang tidak dapat diselesaikan oleh beberapa negara saja. Inisiatif mitigasi yang diselenggarakan secara multilateral telah membuahkan Kesepakatan Paris yang menuntut komitmen tidak hanya negara maju tetapi juga negara berkembang dalam menurunkan emisi, salah satunya adalah Indonesia. Dalam memenuhi komitmen tersebut Indonesia telah mengarusutamakan pembangunan berkelanjutan yang dilakukan melalui praktik Ekonomi Hijau. Berdasarkan kondisi tersebut, monograf ini mencoba melakukan 1) Evaluasi perkembangan Ekonomi Hijau; 2) Mengidentifikasi tantangan yang dihadapi Indonesia; 3) memberikan strategi dan rekomendasi; dan 4) Menyusun proyeksi perkembangan Indonesia ke depan.

img
Rabu, 19 Oktober 2022

Ancaman Resesi Global: Transisi Ekonomi Hijau di Persimpangan Jalan

Seluruh negara tengah menghadapi krisis planet (planetary crisis) yang tidak dapat diselesaikan oleh beberapa negara saja. Inisiatif mitigasi yang diselenggarakan secara multilateral telah membuahkan Kesepakatan Paris yang menuntut komitmen tidak hanya negara maju tetapi juga negara berkembang dalam menurunkan emisi, salah satunya adalah Indonesia. Dalam memenuhi komitmen tersebut Indonesia telah mengarusutamakan pembangunan berkelanjutan yang dilakukan melalui praktik Ekonomi Hijau. Berdasarkan kondisi tersebut, Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45) bekerja sama dengan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) telah menyusun monograf berisi evaluasi terhadap praktik Ekonomi Hijau Indonesia. Ditemukan bahwa pembangunan nasional saat ini masih bersifat transaksional antara ekonomi dengan ekologi dikarenakan masih belum optimalnya faktor pengungkit, seperti regulasi, kelembagaan, dan pendanaan, yang disiapkan pemerintah dalam memfasilitasi transisi Ekonomi Hijau nasional.

Beranjak dari monograf tersebut, LAB 45 dan CSIS ingin memperkaya kajian dan wawasan publik dengan mengadakan webinar yang ditujukan untuk (1) meningkatkan kesadaran publik terkait praktik Ekonomi Hijau, utamanya di tengah bayangan krisis ekonomi global; (2) menjabarkan risiko dan peluang dari transisi Ekonomi Hijau terhadap ekonomi nasional; dan (3) memetakan arah kebijakan dan strategi berdasarkan ketersediaan modalitas nasional.

img
Kamis, 06 Oktober 2022

Memaknai HUT TNI di Tengah Krisis Geopolitik

TENTARA Nasional Indonesia (TNI) memperingati hari lahir mereka setiap 5 Oktober. Cukup banyak peristiwa global yang mengiringi momentum bersejarah tersebut pada tahun ini. Sebut saja perang Rusia-Ukraina, ketegangan baru di Selat Taiwan dan Semenanjung Korea, serta pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 pada November nanti.

img
Senin, 03 Oktober 2022

Danger Zone: The Coming Conflict with China

Kisah tentang “kebangkitan pengaruh Tiongkok” di kancah global merupakan salah satu yang paling sering dibaca di abad ke-21. Baik di Washington maupun di dunia, kebangkitan Beijing merupakan ancaman bagi Amerika Serikat. Semua negara sedang mempersiapkan dunia di mana Tiongkok akan menjadi nomor satu. Brand dan Beckley dalam Danger Zone: The Coming Conflict with China memberikan pandangan berlawanan mengenai Tiongkok dengan menjabarkan mengapa negara tersebut berada di dalam masalah yang lebih besar daripada yang para ahli pikirkan, mengapa tren tersebut membuat beberapa tahun ke depan semakin sulit, dan bagaimana Amerika Serikat menghadapi pengaruh Tiongkok yang semakin besar.

img
Jum'at, 30 September 2022

Perang Hegemonik: Intensitas, Risiko Konflik, dan Strategi Indonesia

Amerika Serikat tidak dapat dipungkiri masih menjadi kekuatan utama dalam tatanan keamanan global. Namun, tren di level regional semakin bergeser ke arah multipolaritas akibat ekspansi ekonomi Tiongkok di Asia Pasifik dan bangkitnya pengaruh Rusia di Eropa Timur. Pergeseran ini meningkatkan potensi konflik regional atau bahkan memicu perang antarnegara adidaya. Indonesia cenderung memiliki limitasi dalam mengambil kebijakan di tengah konteks tersebut. Dalam konteks itu, tim penulis menyajikan sembilan skenario perang antarnegara adidaya dengan menimbang intensitas konflik berdasarkan pola-pola komitmen hegemonik dan perimbangan kekuatan, serta risikonya terhadap Indonesia melalui analisis disrupsi ekonomi dan pola kedekatan geografis. Guna mendekatkan analisis alternatif masa depan dengan kondisi nyata, studi ini juga melakukan simulasi kasus sederhana pada daerah-daerah rawan konflik antarnegara adidaya, yaitu di Laut Cina Selatan, Selat Taiwan, Kepulauan Diaoyu/Senkaku, Semenanjung Korea, Teluk Persia, dan Ukraina.

img
Kamis, 29 September 2022

Prospek Ekonomi Biru bagi Pemulihan Ekonomi Indonesia

Indonesia memiliki potensi ekonomi biru yang besar sebagai alternatif penggerak pemulihan dan pertumbuhan ekonomi. Realisasi atas potensi ini menjadi krusial ketika pertumbuhan dari sektor lainnya tidak lagi bisa menopang kebutuhan yang terus berkembang. Oleh karena itu, pemetaan dan perencanaan terhadap potensi ini perlu disusun sedini mungkin. Keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlangsungan ekologi menjadi kunci pengembangan ekonomi biru. Dalam konteks tersebut, kajian ini menganalisis

img
Kamis, 22 September 2022

Konflik Negara Adidaya dan Disrupsi Ekonomi Global: Strategi Indonesia?

Serangan militer di Ukraina serta ketegangan Tiongkok-Taiwan menunjukkan turbulensi geopolitik yang semakin intens. Tantangan dan persaingan negara-negara adidaya telah membawa risiko bagi perekonomian dan keamanan Indonesia. Bagaimana Indonesia harus bermanuver untuk mengamankan stabilitas ekonomi dan menjaga kedaulatannya di tengah situasi konflik? Temukan jawabannya dalam webinar “Konflik Negara Adidaya dan Disrupsi Ekonomi Global: Strategi Indonesia?” hasil kolaborasi LAB 45 dan PACIS UNPAR

img
Rabu, 21 September 2022

Dampak Utang Jatuh Tempo terhadap Nilai Tukar

Tekanan dari pembayaran kupon dan jatuh tempo utang terhadap nilai tukar cenderung tidak menimbulkan masalah. Tekanan ini juga relatif minimal terhadap Neraca Transaksi Berjalan (Current Account).