Lab45

LAB 45 adalah lembaga kajian yang ingin menyelaraskan antara ilmu pengetahuan dan praktik empiris di bidang peramalan strategis.
LAB 45 berkonsentrasi pada perkembangan global yang berdampak strategis dan bersifat disruptif terhadap kemajuan dan stabilitas Indonesia.
LAB 45 bekerja membantu para pemangku kebijakan dalam mendorong proses transformasi Indonesia menuju negara maju pada tahun 2045.
Logo LAB 45 mencerminkan kesiapan menghadapi ketidakpastian dan tekad untuk terus melangkah maju. Simbol Angsa Hitam merepresentasikan peristiwa langka dan tak terduga yang berdampak signifikan, sebagai pengingat perlunya ketangguhan dan adaptasi bangsa. Sementara itu, Gagak Putih melambangkan keberanian untuk berpikir berbeda dan menemukan peluang dari hal-hal yang dianggap mustahil. Unsur Delta (δ) menegaskan kekuatan dan energi transformasi, sedangkan Epsilon (ε) menggambarkan perjalanan progresif menuju lompatan Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju.
Publikasi
Terpopuler
Delapan dekade perjalanan demokrasi Indonesia mencerminkan dinamika politik yang kompleks dan penuh gejolak. Demokrasi Indonesia tidak berkembang secara linier, tetapi mengalami fluktuasi tajam yang dipengaruhi oleh perubahan rezim, orientasi kekuasaan, dan kapasitas kelembagaan negara. Sejak era parlementer hingga masa Reformasi, demokrasi Indonesia telah menghadapi tekanan struktural maupun kultural yang berdampak pada ketegangan antara prosedur formal demokrasi dan kualitas substantifnya.
Penurunan kualitas demokrasi Indonesia dalam dua dekade terakhir terjadi karena semakin dominannya kekuasaan eksekutif, pelemahan lembaga pengawas, serta kooptasi terhadap parlemen, yudikatif, dan media. Partai politik, yang seharusnya menjadi penggerak utama demokrasi, justru berkontribusi pada pelemahan demokrasi melalui kartelisasi, oligarkisasi, dan personalisasi. Di tengah sistem multipartai, tidak terjadi diferensiasi ideologis atau kontestasi programatik yang bermakna, melainkan justru terjadi konvergensi kepentingan elite politik yang menyatu dalam koalisi pragmatis kekuasaan. Akibatnya, demokrasi prosedural kehilangan daya kontrol dan kepercayaan publik semakin menurun.
Terbaru
Di bawah permukaan Jalur Gaza yang luasnya hanya 365 kilometer persegi—lebih kecil dari Kota Surabaya—terbentang labirin bawah tanah sepanjang 350-500 kilometer.
Under the Gaza Strip, a territory of just 365 square kilometers, lies a tunnel network stretching 350 to 500 kilometers, buried 10 to 40 meters deep. At 1.37 kilometers of tunnel per square kilometer of surface, it is denser than most city subway systems. Entry points are hidden inside homes, mosques, schools and hospitals. This underground fortress is the physical face of asymmetric war, a conflict where the weaker side does not need to win. It only needs to survive.























