Bencana dan Diskriminasi Kelompok Rentan

Jaleswari Pramodhawardani Selasa, 16 Desember 2025
Bencana dan Diskriminasi Kelompok Rentan Bencana dan Diskriminasi Kelompok Rentan

Penulis

KOMPAS.TV- Kita sering diajarkan bahwa bencana adalah peristiwa alam. Tetapi di Sumatera hari-hari ini, di tenda-tenda pengungsian yang basah oleh hujan dan dipenuhi suara anak-anak yang batuk sepanjang malam, kita belajar sesuatu yang lebih pahit: bencana tidak pernah netral. 

Ia memperbesar yang timpang, mempercepat yang rapuh, dan memperjelas siapa yang punya ruang untuk selamat dan siapa yang tertinggal. Data hingga 10 Desember 2025 mencatat  965 jiwa meninggal, korban luka berat lebih dari seribu, ratusan hilang, dan lebih dari 100 ribu rumah rusak. 

Angka-angka itu terkesan seperti statistik yang dingin, padahal di balik setiap angka ada keluarga yang tak lagi memiliki rumah, ada anak yang kehilangan ibunya, ada lansia yang kehilangan obat harian dan kartu identitasnya, ada penyandang disabilitas yang terseret derasnya air. 

Kita membaca laporan itu dengan jarak; mereka hidup dengan kehilangan itu hampir setiap hari. Di balik angka-angka ini tersembunyi pola sosial yang jarang mendapat perhatian cukup: bencana tidak memukul semua orang dengan sama kuatnya. Tubuh-tubuh yang paling rentan secara sosial adalah yang paling sering tertinggal di belakang bantuan dan pemulihan.

Publikasi Terkait