Para Sahabat Presiden
Para Sahabat Presiden
Penulis
Baru-baru ini penulis mendapatkan buku dengan judul Guide to Presidency (2015). Buku yang diedit oleh Michael Nelson ini tidak bercerita tentang Indonesia. Buku ini pada dasarnya memuat perjalanan panjang lembaga kepresidenan di Amerika Serikat (AS). Tersusun dalam 37 bab dengan ketebalan lebih dari 1.700 halaman, buku ini menarik untuk ditelaah. Bagaimana lembaga kepresidenan bekerja dan beradaptasi dengan dan dibentuk oleh lingkungan kerjanya sejak negara tersebut berdiri pada tahun 1776 adalah substansi dari buku ini.
Namun artikel pendek ini tidak membicarakan keseluruhan isi buku itu. Tulisan ini pada dasarnya hanya berusaha untuk melihat sisi-sisi psikologis dari seseorang yang menduduki jabatan sebagai presiden terutama ketika melakukan pekerjaannya dan berinteraksi dengan para sahabatnya. Sumbernya terutama berasal dari bab yang memuat kehidupan sehari-hari Presiden AS dan tentang sahabat-sahabat presiden yang keduanya ditulis oleh Stephen L. Robertson (bab 24 dan bab 25). Beberapa cuplikan (snapshot) dari dua bab itu barangkali menarik untuk dipaparkan dan kita renungkan bersama.
Beberapa cuplikan
Salah satu kisah terkait dengan kehadiran armada pesawat kepresidenan. Seperti kita ketahui, Presiden Amerika Serikat memiliki sejumlah armada pesawat kepresidenan. Salah satu yang terkenal dari armada itu adalah Air Force One. Dimodifikasi dari pesawat Boeing 747, Air Force One tidak hanya dilengkapi dengan kursi, sofa dan tempat tidur, ruang kantor dan konferensi, serta perangkat komputer. Air Force One disebutkan juga memiliki fasilitas media dengan peralatan komunikasi yang canggih yang memiliki akses ke seluruh penjuru dunia. Pada awalnya Air Force One ini dirancang dapat membawa sekitar 140 penumpang. Tapi pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan, kapasitas penumpangnya diputuskan untuk dikurangi. Disebutkan kini Air Force One hanya bisa membawa 70 penumpang.
Menarik mencatat alasan yang disebutkan mengapa kapasitas angkut penumpangnya berkurang. Menurut Stephen L. Robertson, Presiden Reagan disebutkan berusaha untuk mengurangi permintaan dari para sahabatnya untuk “nunut” dalam rombongan perjalanan pesawat kepresidenan itu. Di samping anggota keluarga presiden, secara tradisional memang para sahabat (tentu saja yang diundang) dapat ikut dalam rombongan pesawat canggih itu. Ikut dalam perjalanan bersama presiden disebutkan sebagai suatu simbol status bagi para sahabat itu. Penting juga mencatat soal efisiensi dalam perjalanan tersebut. Kecuali dalam perjalanan dinas (official business), para sahabat yang “nunut” dalam rombongan perjalanan presiden harus membayar dari kantong mereka sendiri. Biaya untuk ikut dalam perjalanan itu disebutkan setara dengan tarif kelas pertama pesawat komersial.
Cerita lain adalah soal kebiasaan kerja yang berbeda antara satu presiden dengan presiden lainnya. Ada presiden yang tercatat sangat bekerja keras. Presiden yang terkenal bekerja berjam-jam di ruang kantornya misalnya adalah Presiden Lyndon Johnson. Bangun dini hari, Johnson memiliki kebiasaan bekerja hingga tengah malam. Tampaknya Presiden Lyndon Johnson disebutkan berusaha untuk mencatatkan prestasi lebih tinggi daripada pendahulunya. Namun tidak semua Presiden memiliki kebiasaan bekerja penuh waktu (full-time job) seperti Presiden Lyndon Johnson itu. Presiden Dwight D Eisenhower dan John F Kennedy misalnya memiliki kebiasaan berbeda. Presisden Eisenhower misalnya hanya bekerja pada pagi hingga siang hari. Presiden yang relaxed diyakininya akan membuat keputusan lebih baik dibandingkan dengan Presiden dengan beban kerja yang berlebih (overworked). Mirip dengan itu adalah John F. Kennedy. Sejak menjadi anggota legislatif, John F. Kennedy sebenarnya dikenal sebagai “legislator empat hari kerja”. Di luar empat hari kerja itu, John F. Kennedy menghabiskan waktunya sebagai hari istirahat pada akhir pekan.
Walau berbeda-beda dalam menjalankan rutinitas kerja, mereka semuanya tentu saja memiliki sahabat. Para sahabat ini dapat berperilaku sebagai penasihat, baik secara resmi maupun tidak resmi. Para sahabat terdekat terkadang memiliki hubungan darah langsung dengan presiden. Milton Eisenhower misalnya. Walau ia tidak memiliki jabatan formal tetapi adik bungsu dari Presiden Dwight D Eisenhower (1953-1961) ini sangat dikenal sebagai penasihat dan orang kepercayaan. Mirip dengan itu adalah Robert Kennedy. Ia menjadi salah satu penasihat terdekat dari Presiden John Kennedy (1961-1963). Namun berbeda dengan Eisenhower, John Kennedy menunjuk saudaranya tersebut sebagai Jaksa Agung walau sesungguhnya ia disebutkan memiliki pengalaman sangat terbatas dalam profesi hukum. Kritikan-kritikan tentu saja muncul dengan pengangkatan ini. Kecaman terhadap pengangkatan inilah yang kemudian mendorong Kongres AS pada 1967 mengeluarkan ketentuan hukum yang melarang Presiden AS berikutnya melakukan pengangkatan jabatan di kabinet jika memiliki kaitan hubungan darah.
Kedekatan berdasarkan hubungan darah memang memiliki potensi untuk menjadi beban (liability) bagi Presiden. Lihatlah misalnya kasus Donald. Saudara Richard Nixon (1969-1974) ini disebutkan meminjam uang dari Howard Hughes, pengusaha produsen pertahanan terkenal di AS. Namun, disebutkan ia tidak pernah melunasinya. Setelah memenangkan pemilihan, Presiden Nixon memutuskan “mengisolasi” dan “mengawasi” secara ketat saudaranya tersebut untuk menghindarkan kecaman-kecaman yang tidak diperlukan. Demikian juga dengan kisah Presiden Jimmy Carter (1977-1981). Pada awalnya, Billy Carter, sebagai saudara sangat membantu Jimmy Carter dalam kampanye pemenangan presiden. Namun kemudian setelah memenangkan pemilihan, perilaku Billy berubah menjadi pesohor yang memberikan komentar-komentar di berbagai media yang tidak menyenangkan publik. Tudingan tentang ketidakwajaran laporan keuangan (financial irregularities) Billy Carter kemudian muncul. Musuh politik Jimmy Carter, terutama dari Partai Republik memanfaatkan isu ini. Ketidakmampuan Jimmy Carter mengendalikan perilaku Billy Carter disebutkan sebagai pemimpin yang lemah yang kemudian menjadi salah satu alasan ia tidak memenangkan pemilihan berikutnya.
Kerap juga dalam beberapa kisah ditunjukkan bahwa penasihat presiden berasal dari sahabat lama. Presiden Andrew Jackson (1829-1837) memiliki dua sahabat lama yang menjadi penasihat terdekatnya yaitu John H Eaton dan Andrew J. Donelson. Demikian juga dengan Presiden Franklin Roosevelt (1933-1945). Ia mendapatkan masukan nasihat dari sekelompok akademisi yang dipimpin oleh Rexford G. Tugwell. Ada beberapa sebab mengapa penasihatan dari para sahabat lama ini dibutuhkan.
Dalam kasus Andrew Jackson, lebih disebabkan oleh perpecahan dalam Partai Demokrat. Wakil Presiden, John C. Calhoun adalah faksi yang berseberangan dengan Andrew Jackson. Karena itu kabinetnya tidak solid. Sebagian dari anggota kabinet merupakan pendukung John C. Calhoun. Karena itu ia ingin mendapatkan masukan dari sahabat-sahabatnya. Dalam masa Presiden Andrew Jackson inilah, kemudian dikenal dengan istilah kitchen cabinet. Berbeda dengan Andrew Jackson, Franklin Rossevelt memerintah pada masa depresi besar melanda AS. Itu sebabnya ia membutuhkan penasihatan teknokratik dari kalangan akademisi untuk mengatasi depresi besar itu dengan meluncurkan program yang dikenal dengan nama new deal.
Namun dapat juga terjadi, beberapa sahabat lama itu tidak membantu dan malah menjadi beban. Lihat misalnya kisah Presiden Ulysses Grant (1869-1877) dan Warren G. Harding (1921-1923). Para sahabat dekat Presiden Ulysses Grant menciptakan berbagai skandal seperti yang dilakukan oleh sekretaris pribadinya Orville F. Babcock yang merugikan pemerintah AS dalam skandal pajak pengambilalihan perusahaan. Demikian juga dengan kasus William W. Belknap. Menjabat sebagai Menteri Perang (Secretary of War), Belknap terpaksa mengundurkan diri karena melawan aturan pelarangan penjualan barang kepada orang-orang Indian dan bahkan disebutkan menolak utuk memberikan penjelasan kepada Kongres. Hal yang hampir sama terjadi pada masa kepemimpinan Presiden Warren G. Harding. Sahabatnya, Albert B. Fall yang diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri terlibat dalam skandal yang dikenal dengan nama teapot dome scandal (penjualan lahan negara di bawah nilai standar). Ia akhirnya terbukti bersalah dalam proses pengadilan. Penyebabnya adalah sederhana. Baik Presiden Ulysses Grant maupun Warren G. Harding tidak mampu bersikap tegas terhadap sahabat-sahabat lamanya itu.
Catatan refleksi
Catatan refleksi apa yang bisa kita peroleh dari nukilan kisah-kisah ini. Seorang presiden adalah seorang yang sangat berkuasa. Dalam tradisi AS dengan sistem pemerintahan presidensial-demokratik, seorang Presiden tidak hanya menjabat sebagai pelaksana utama tertinggi pemerintahan (chief executive) tetapi ia sekaligus juga diplomat utama (chief diplomat), panglima tertinggi (commander in chief), kepala negara (chief of state) dan bahkan mungkin menjadi ekonom utama (chief economist) negeri itu.
Dengan kekuasaan seperti itu, tentu saja seorang Presiden menjadi magnet (center of gravity) dari banyak kepentingan. Kasus-kasus di atas menunjukkan bahwa para sahabat presiden dapat menjadi aset berharga tetapi dapat juga menjadi beban besar. Para sahabat (terutama sahabat lama ketika masa-masa sulit dan belum mencapai puncak) dapat menjadi aset berharga jika mereka memberikan nasihat yang tidak bias dengan perspektif yang segar tanpa kaitan dengan perpolitikan di ibu kota. Tapi dapat juga menjadi beban. Terutama ketika seorang presiden “dibutakan” oleh perilaku para sahabat yang berpikir jangka pendek dan transaksional.
Keluar dari jebakan transaksional para sahabat ini tidaklah mudah. Orang-orang dekat sebagai penasihatnya itu mungkin hanya menyampaikan cerita menyenangkan. Terlihat riuh tapi keriuhan berdasarkan one single event. Dengan kekuasaan seperti colossus itu, seorang presiden mungkin secara psikologis juga menjadi orang yang sangat kesepian. Pada akhirnya menarik menyampaikan temuan Jeffrey R Brwon dan Jiekun Huang. Dalam kertas kerjanya, All The President Friends: Political Acess and Firm Value (2017), kedua penulis menunjukkan adanya korelasi antara perusahaan yang memiliki akses dengan lingkaran dalam Presiden Amerika Serikat. Pimpinan perusahaan yang kerap bertemu dengan presiden mengalami peningkatan dalam nilai saham perusahaannya. Ini mengingatkan adagium lama bahwa bisnis tidak pernah berada dalam ruang hampa politik.








