Generated by AI
Penulis
“Lapor! Kesatrian, aman!”
Kalimat itu menemani masa kecil saya. Saya anak kolong. Saya tumbuh di kompleks Baret Merah, Cijantung. Setiap pagi komandan regu melapor dalam apel, dan setiap kali komandan masuk kompleks, regu jaga di gerbang memberi hormat lalu melapor dengan kalimat yang sama.
Tetapi sesekali, laporannya berbeda: "Lapor! Status kesatrian: waspada!"
Saya masih ingat, anak-anak kompleks langsung diam setiap kali mendengar kalimat itu. Kami tidak takut. Kami justru merasa dijaga. Sejak kecil saya tahu, laporan "waspada" bukan tanda pembangkangan. Laporan itu tanda regu jaga sedang bekerja.
Di rumah, saya melihat hal yang sama dari dekat. Ayah saya prajurit, dan sebagian besar masa dinasnya ia habiskan di Timor Timur sejak Operasi Seroja. Ibu saya juga prajurit, perwira Korps Wanita Angkatan Darat. Ketika ayah berangkat, ibu tetap berseragam. Pagi ia apel, siang ia berdinas, malam ia mengurus kami.
Dari rumah seperti itu, kami belajar satu hukum sebelum belajar membaca: ayah akan sibuk tempur, anak harus bisa ngurus diri sendiri.
"Ayah akan sibuk tempur, anak harus bisa ngurus diri sendiri." HUKUM KOMPLEKS TENTARA
Kami juga belajar satu kata yang terdengar seperti mantra: cumemu. Singkatan dari cuaca, medan, dan musuh. Para prajurit mengucapkannya sebelum berangkat, karena sebelum pasukan bergerak, komandan harus tahu tiga hal itu.
Belakangan saya mengerti bahwa cumemu hanya punya satu syarat: ia harus dilaporkan apa adanya.
Itulah yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Ngurus negara memang berat. Justru karena berat, negara tidak boleh diurus dengan cumemu yang dipoles.





