Generated by AI
Penulis
Sebuah bangsa yang membubarkan pemutaran filmnya sendiri sebenarnya sedang mengaku, bukan tentang film itu, melainkan tentang dirinya sendiri. Pelarangan, intimidasi, dan pembubaran paksa terhadap film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale di Ternate, Mataram, Suralaga, hingga Yogyakarta bukanlah persoalan selera estetik atau urusan ketertiban kampus.
Ia adalah pengakuan negara bahwa cermin yang disodorkan oleh para sineas dokumenter terlalu jernih untuk ditatap. Dan ketika negara, diwakili Dandim, Wakil Rektor, hingga aparat intelijen, memilih memecahkan cermin alih-alih memperbaiki wajahnya, yang sesungguhnya sedang diberangus bukan satu film, melainkan kemampuan republik ini untuk melihat dirinya sendiri secara jujur.
Film, sebagaimana diingatkan Stuart Hall, tidak pernah sekadar memantulkan realitas, ia mengkonstruksi makna. Sebuah dokumenter yang serius bukan kumpulan gambar bergerak; ia adalah penataan ulang dunia melalui pilihan sudut kamera, kesaksian, narasi, dan keheningan. Dalam pengertian ini, Pesta Babi adalah konstruksi, dan justru karena ia konstruksi, ia bermakna.







