Sumpah Pemuda Zaman Digital
Sumpah Pemuda Zaman Digital
Penulis
KETIKA para pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, mereka sesungguhnya sedang melahirkan suatu imajinasi politik baru, sebuah kesadaran kolektif untuk melampaui batas etnis, agama, dan daerah menuju cita-cita bersama bernama 'Indonesia'.
Ikrar itu bukan hanya peristiwa kultural, melainkan juga tindakan politik yang menandai lahirnya subjek baru dalam sejarah: orang muda yang menolak tunduk pada tatanan kolonial dan menuntut hak menentukan masa depannya sendiri. Hampir satu abad kemudian, semangat serupa bangkit kembali di berbagai belahan dunia dalam bentuk dan bahasa yang berbeda.
Sepanjang 2025, dunia menyaksikan gelombang gerakan pemuda yang merebak dari Nepal, Madagaskar, Maroko, Kenya, Peru, Timor Leste, hingga Indonesia. Meskipun berakar pada konteks nasional yang berbeda, semuanya menunjukkan pola serupa: generasi muda yang frustrasi terhadap ketimpangan ekonomi, kemerosotan demokrasi, serta maraknya korupsi dan patronase politik. Mereka menolak menjadi penonton di tengah oligarki global yang kian mengukuhkan diri, dan sebaliknya memanfaatkan ruang digital untuk mengorganisasi diri, memproduksi makna, dan menegosiasikan kembali makna keadilan.








