Partai Politik yang Banal

Omar Farizi Wonggo, Baginda Muda Bangsa Selasa, 09 September 2025
Partai Politik yang Banal Partai Politik yang Banal
  • fb
  • x
  • youtube

Penulis

Omar Farizi Wonggo

Omar Farizi Wonggo

Analis
Politik Keamanan

Baginda Muda Bangsa

Baginda Muda Bangsa

Analis
Ekonomi Politik

HANNAH Arendt dalam karyanya, Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil, mengenalkan istilah banality of evil atau kejahatan yang banal. Ia berupaya menjelaskan bahwa kejahatan bisa lahir dari orang biasa yang berhenti menggunakan kepalanya untuk berpikir—orang yang taat prosedur, tapi mengabaikan nurani.

Arendt sedang memotret watak Adolf Eichmann, perwira Nazi yang mengatur deportasi jutaan orang Yahudi ke kamp konsentrasi di seluruh Eropa. Eichmann menampilkan diri sebagai birokrat yang taat hukum selama persidangan. Namun loyalitasnya yang total kepada pemimpin Nazi, Adolf Hitler, membuat Eichmaann menjadi bagian dari salah satu kejahatan kemanusiaan paling kejam dalam sejarah.

Banalitas, sebuah istilah yang merujuk pada ketidakmampuan berpikir, nirempati, dan perilaku aparatur negara yang prosedural, tampak dalam politik Indonesia hari-hari ini. Tanpa bermaksud menyamakan dengan kejahatan pada era Nazi, Dewan Perwakilan Rakyat yang diisi kader partai politik sedang menunjukkan sifat yang banal itu. Para wakil rakyat hanya menjadi stempel bagi kebijakan populis pemerintah dan mengabaikan peran sebagai lembaga pengawas.

Publikasi Terkait