Menyongsong Kutub Baru Artificial Intelligence (AI): Manusia Dalam Transformasi Pasar Kerja
Generated by AI
Penulis
Bonus demografi Indonesia tidak akan berlangsung selamanya, sementara pekerja usia produktif akan terus berhadapan dengan teknologi yang berkembang cepat, termasuk akal imitasi (Artificial Intelligence/AI) yang menyasar pekerjaan kognitif. Monograf ini mempertanyakan apakah rendahnya paparan AI di pasar kerja Indonesia benar-benar berarti aman, atau justru menyembunyikan struktur yang rapuh dan dapat diperparah oleh teknologi tersebut. Dengan Generative AI sebagai fokus empiris, kajian ini berupaya menjawab dua pertanyaan pokok: (1) kelompok pekerjaan mana yang rentan terotomatisasi atau berpotensi memperoleh manfaat, serta bagaimana persebarannya di pasar kerja Indonesia; dan (2) bagaimana dinamika ketenagakerjaan pascakehadiran Generative AI menghadirkan peluang dan tantangan. Untuk itu, monograf menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan mempertemukan nilai paparan per jabatan (Gmyrek dkk., 2025) dan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 berdasarkan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI), diperkaya wawancara mendalam, lalu dilanjutkan dengan scenario building berdasarkan expert judgement menuju 2045. Skenario dibentuk oleh dua faktor kunci, yaitu kapasitas ekonomi menciptakan pekerjaan produktif dan kesiapan tenaga kerja. Hasilnya menunjukkan bahwa jabatan dengan paparan tertinggi terkonsentrasi pada tenaga tata usaha, profesional, teknisi dan asisten profesional, serta manajer (Golongan Pokok 1–4), meski kelompok ini mencakup proporsi pekerja yang relatif kecil dibandingkan kelompok pekerjaan lain. Perlu dicatat bahwa temuan ini bersifat struktural dan tidak dapat dibaca sebagai estimasi jumlah pekerja yang tergantikan. Di sisi lain, lulusan SMA, kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, sebagian mengisi pekerjaan administratif yang relatif terpapar, sementara Generasi Z belum optimal memanfaatkan AI untuk pekerjaan dan produktivitas. Artinya, rendahnya paparan bukan kabar baik, melainkan cerminan deindustrialisasi prematur dan dominasi pekerjaan informal berproduktivitas rendah. Struktur yang sama melindungi pekerja dari disrupsi langsung sekaligus menutup jalan memperoleh manfaat produktivitas. Dengan pekerja formal baru mencapai 40,6%, kontribusi manufaktur 19,1% terhadap PDB, ketidaksesuaian kualifikasi yang relatif tinggi, dan penggunaan Generative AI produktif oleh generasi muda hanya 19,0% pada 2026, Indonesia berada relatif dekat dengan skenario Jebakan Prekariat, yakni ketika penciptaan pekerjaan berkualitas rendah berjalan bersamaan dengan rendahnya kesiapan tenaga kerja. Namun, lintasan tersebut bukan keniscayaan. Monograf menempatkan Generative AI sebagai pengungkit, bukan penentu tunggal, sehingga empat hal perlu diperkuat secara simultan melalui pemetaan kebutuhan industri, pengembangan modal manusia (reformasi kurikulum, reskilling, upskilling, dan pembelajaran sepanjang hayat), pengaitan adopsi dengan penciptaan pekerjaan formal yang produktif, serta penguatan jaring pengaman sosial bagi pekerja dalam transisi teknologi. Dengan demikian, agenda Indonesia adalah memastikan adopsi teknologi dan perlindungan tenaga kerja berjalan beriringan.
Kata Kunci: Generative AI; bonus demografi; ketenagakerjaan Indonesia; paparan AI; pekerjaan informal; Generasi Z; skenario 2045








