Navigasi Indonesia pada Rivalitas Akal Imitasi Amerika Serikat-Tiongkok

Omar Farizi Wonggo Selasa, 13 Oktober 2026
Generated by AI Generated by AI

Penulis

Omar Farizi Wonggo

Omar Farizi Wonggo

Analis
Politik Keamanan

Tulisan ini menganalisis respons Indonesia terhadap rivalitas geopolitik akal imitasi antara Amerika Serikat dan Tiongkok melalui pendekatan realisme neoklasik. Penulis menilai bahwa Indonesia menunjukkan gejala underbalancing dalam menghadapi tekanan geopolitik AI akibat tiga hambatan domestik, yaitu fragmentasi elite kebijakan, rendahnya ketahanan lembaga, serta keterbatasan kemampuan ekstraksi dan mobilisasi sumber daya. Untuk memetakan perkembangan lingkungan strategis, tulisan ini menggunakan matriks Sullivan–Feldman yang bertumpu pada tiga variabel, yaitu laju perkembangan AI, tingkat kesulitan pengejaran kapabilitas AI terdepan, dan intensi strategis Tiongkok. Dari delapan proyeksi dunia yang dihasilkan, dunia pertama (W1) dan dunia kelima (W5) menjadi skenario acuan dengan karakteristik persaingan Tiongkok yang terus berlangsung dan sulitnya mengejar kapabilitas AI terdepan, sementara laju perkembangan AI menjadi variabel pembeda. Implikasi utama dari diagnosis dan proyeksi tersebut adalah perlunya keputusan kepemimpinan nasional untuk mengatasi hambatan politik dan fiskal, dengan dua prioritas jangka pendek berupa penyelesaian regulasi Peta Jalan AI Nasional dan Etika AI serta evaluasi risiko akses terhadap teknologi strategis. Berdasarkan kerangka exit–voice–loyalty, penulis mengusulkan postur penguatan kapasitas negosiasi untuk membangun ketahanan berbasis ketergantungan yang terkelola. Postur tersebut diterjemahkan melalui tiga kerangka kebijakan yang saling mendukung. Kerangka regulasi memperkuat tata kelola AI yang mengikat secara hukum dan mencegah ketergantungan teknologi yang sulit dialihkan. Kerangka kelembagaan meningkatkan koordinasi lintas instansi dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan geopolitik. Kerangka pendanaan diarahkan untuk mengonversi dan memobilisasi sumber daya nasional menjadi kapasitas strategis. Tulisan ini menegaskan bahwa ketahanan Indonesia tidak ditentukan oleh kemampuan menguasai seluruh rantai nilai AI, tetapi oleh kemampuannya mempertahankan pilihan dan daya tawar di tengah ketergantungan teknologi yang semakin kompleks.

Kata Kunci: Geopolitik AI; Persaingan Amerika Serikat-Tiongkok; Kebijakan AI Indonesia; kerangka Exit-Voice-Loyalty; Realisme Neoklasik.

Publikasi Terkait