Geopolitik Akal Imitasi: Diplomasi Ketahanan Indonesia di Tengah Persaingan Empat Kutub

Omar Farizi Wonggo Jumat, 09 Oktober 2026
Generated by AI Generated by AI

Penulis

Omar Farizi Wonggo

Omar Farizi Wonggo

Analis
Politik Keamanan

Cakrawala strategis ini menganalisis posisi Indonesia pada percaturan geopolitik akal imitasi global, utamanya antara Amerika Serikat dan Tiongkok, dengan mempertimbangkan posisi kekuatan lainnya, seperti Uni Eropa, dan Simpul Keempat. Menggunakan data dari Government AI Readiness Index dan AI Index Stanford, tulisan ini memetakan orientasi kebijakan, kapasitas pengembangan, dan pembatasan dari masing-masing kutub yang menghasilkan friksi struktural dan dampaknya terhadap middle power, seperti Indonesia. Lebih lanjut, Indonesia menunjukkan posisi paradoksal, yakni memiliki permintaan pasar dan kapasitas kebijakan yang relatif kuat tetapi sangat lemah dalam komputasi, riset, talenta, dan produksi model AI sehingga memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi pada asing. Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan aktualisasi konkret atas diplomasi ketahanan yang dibangun oleh Kementerian Luar Negeri dalam merespons dinamika geopolitik AI. Intervensi penguatan ditujukan pada dua aspek utama, yakni kerangka kelembagaan dan kerangka kebijakan. Diplomasi ketahanan bidang AI membutuhkan kelompok spesialis yang didedikasikan terhadap pengamanan dan pembangunan kapasitas AI. Selain itu, perjanjian dan mekanisme kerja sama yang disepakati bersama negara mitra perlu mengarusutamakan bidang AI di dalamnya, seperti perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif.

Kata Kunci: Pemetaan Geopolitik AI; Persaingan Amerika Serikat-Tiongkok; Kapasitas AI Indonesia; Diplomasi Ketahanan.

Publikasi Terkait