Menyemai Kembali Karakter Harmonis Bangsa
(Reformulasi Pengetahuan Lokal bagi Kelangsungan Hidup Manusia)

Y. Argo Twikromo Selasa, 11 November 2025
Menyemai Kembali Karakter Harmonis Bangsa
(Reformulasi Pengetahuan Lokal bagi Kelangsungan Hidup Manusia) Menyemai Kembali Karakter Harmonis Bangsa (Reformulasi Pengetahuan Lokal bagi Kelangsungan Hidup Manusia)

Penulis

Y. Argo Twikromo

Y. Argo Twikromo

Peneliti dan Staf Pengajar FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Keberadaan pengetahuan lokal maupun pengetahuan ilmiah seharusnya hadir berdampingan atau beriringan dalam menopang berbagai lini kehidupan manusia. Keduanya mempunyai ranah dan torehannya sendiri dalam “mewarnai” dan mengisi relung-relung perkembangan kehidupan saat ini. Baik pengetahuan lokal maupun pengetahuan ilmiah perlu dipahami sesuai dengan logika, nilai, praktik, dan konteks pengetahuan itu sendiri, bukan berdasarkan dari masing-masing sudut pandang maupun standar pengetahuan tersebut. Logika dan cara berpikir manusia dalam konteks ruang (lokasi fisik maupun kandungan yang melekat) dan waktu (kronologi peristiwa maupun kesinambungannya) menjadi bagian tak terpisahkan dalam mengelola kehidupan manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal dan budi.

Dalam perkembangan kehidupan saat ini, kehadiran pengetahuan ilmiah sering kali justru menafikan keberadaan pengetahuan lokal melalui sekat dikotomi yang tajam dan tegas. Kehadiran pengetahuan ilmiah seharusnya merengkuh pengetahuan lokal secara padu serasi, bukan sebaliknya. Sekat pembeda utama tersebut, antara lain terkait dengan cara atau metode pengumpulan data, penyimpanan data, analisis data, dan interpretasi data. Dikotomi yang tegas ini menyediakan ruang bagi ilmu pengetahuan ilmiah untuk tampil sebagai pengetahuan dominan di seluruh bumi ini.

Sebaliknya, pengetahuan lokal yang sudah berakar kepada pijakan kehidupan lokal justru menjadi semakin terpinggirkan. Keberadaan pengetahuan lokal sering kali dianggap tidak masuk akal atau tidak logis, sekedar mitos, maupun berbagai pandangan lain bernuansa merendahkan. Hal ini terkait erat dengan pemahaman dangkal terhadap pengetahuan lokal yang hanya menggunakan standar dari sudut pandang pengetahuan ilmiah semata. Metodologi, validitas, jangkauan, dan keberlanjutan dalam pengetahuan lokal dianggap sangat kabur dan tidak ilmiah, tanpa memahami konteks logika, nilai, praktik, dan konteks pengetahuan lokal secara holistik.

Perkembangan kehidupan yang saat ini lekat dengan dominasi pengetahuan ilmiah relatif dapat menyediakan perspektif kebenaran sepihak dalam memahami keberadaan pengetahuan lokal. Pengetahuan lokal kurang dipahami dari konteks kehidupan masyarakat masa lalu, terutama ketika pengetahuan lokal berperan penting dalam tata kelola kehidupan bersama. Para leluhur bangsa telah mengembangkan pengetahuan lokal dalam pengelolaan berbagai lini kehidupan yang terkoneksi secara relatif utuh. Rajutan berbagai komponen dan kandungan berbagai nilai kehidupan tersebut menyediakan ruang pembelajaran dan penghayatan dalam mengelola karakter harmonis maupun keluhuran kehidupan. Secara tidak disadari, berbagai praktik kehidupan relatif terkoneksi dalam satu kesatuan berbagai ekosistem. Rajutan berbagai ekosistem tersebut relatif menjadi wahana dalam persemaian kembali, penyesuaian kembali, maupun pembentukan kembali (reformulasi) keberadaan maupun kehadiran karakter harmonis kehidupan dalam diri manusia.

Pengetahuan Lokal dalam Rengkuhan Para Leluhur

Pengetahuan lokal sering kali dimaksudkan sebagai pemahaman, keterampilan, dan filosofi yang berkembang dalam suatu masyarakat dari waktu ke waktu melalui pengalaman, interaksi, dan perjumpaan dengan lingkungan kehidupan mereka. Ketika kehidupan relatif cair dan dinamis sesuai perkembangan kehidupan maupun perjumpaan dengan pihak eksternal, maka pengetahuan lokal sangat dimungkinkan untuk mendapatkan berbagai sentuhan, kreasi, dan warna baru, baik secara internal dan eksternal. Dalam konteks ini, persinggungan maupun perjumpaan dengan pengetahuan “lain” dan bahkan kehidupan yang berbeda relatif menghasilkan kesesuaian dalam bingkai atau payung pengetahuan lokal, bukan sebaliknya.

Pada umumnya, pengetahuan lokal berlandaskan pengutamaan relasi selaras antara manusia dengan sesama, dengan alam, dengan Sang Sumber Kehidupan (dalam terminologi yang relatif berbeda-beda), dan bahkan antarketiganya. Esensi keselarasan ini sering kali secara cerdik, cerdas, dan kreatif dituangkan sebagai kandungan berbagai praktik kehidupan oleh para leluhur bangsa ini. Berbagai praktik kehidupan (kebudayaan) yang diwariskan oleh para leluhur bangsa tanpa disadari telah menjadi rajutan-rajutan yang mengandung pengutamaan karakter harmonis dalam kehidupan manusia secara holistik. Perpaduan relatif berimbang antara akal dan budi justru menjadi kemasan keluhuran kehidupan yang relatif dikedepankan, bukan sekedar dominasi akal maupun budi semata.

Pengetahuan lokal relatif bersifat dinamis dan pada umumnya tidak tertulis, sehingga pola keberlanjutannya melalui pewarisan secara turun-temurun, bukan melalui tulisan seperti persyaratan utama dalam pengetahuan ilmiah. Berbagai aspek pengetahuan lokal, seperti pertanian, pengelolaan sumber daya alam, pengobatan, maupun nilai-nilai kehidupan masyarakat terkelola melalui kecerdikan, kecerdasan, dan kreativitas para leluhur, yaitu dengan menyimpan dalam “perpustakaan” simbol-simbol yang melekat kepada berbagai macam praktik kehidupan. Simbol-simbol ini tidak sekedar “dibaca” seperti halnya buku-buku di perpustakaan ilmiah, tetapi juga menyediakan ruang untuk pembelajaran dan penghayatan bagi seseorang, sehingga dapat merasuk ke dalam hati sanubari. Dalam konteks ini, berbagai praktik kehidupan sering kali berulang sepanjang waktu, seperti penyelenggaraan adat dan tradisi, slametan (selamatan), bersih desa, maupun upacara-upacara yang terkait dengan lingkaran hidup manusia.

Berbagai praktik kehidupan semacam ini memberikan ruang pembelajaran dan penghayatan terhadap pengetahuan lokal dalam bentuk yang berbeda dan sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat. Dengan demikian, berbagai praktik kehidupan secara turun-temurun tidak hanya mereproduksi pengetahuan lokal semata, tetapi juga mereproduksi berbagai nilai, asas, dan nuansa kehidupan yang lekat dengan pengelolaan kehidupan bersama dalam koridor keharmonisan. Dalam konteks tersebut, perlu digarisbawahi kembali bahwa akal dan budi menjadi satu kesatuan padu serasi yang tidak terpisahkan. Pengelolaan kehidupan selaras dapat relatif terwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga mampu mewarnai berbagai dinamika kehidupan selama berabad-abad.

Perlu dipahami bahwa logika pikir sederhana nenek moyang bangsa ini barangkali telah memperhitungkan proses internalisasi asas dan nilai keselarasan kehidupan bersama agar dapat merasuk dalam hati sanubari para pendukungnya dan terkelola secara berkelanjutan. Berbagai penyelenggaraan rangkaian kegiatan sosial-budaya sering kali menjadi wahana penghayatan keberadaan manusia, sekaligus sebagai proses internalisasi relasi selaras antarberbagai komponen kehidupan. Perjalanan panjang dinamika kehidupan bangsa ini telah membuka ruang perjumpaan, silang budaya, kontestasi, pergumulan, pergesekan, dan bahkan pergulatan antarkekuatan, baik secara internal maupun eksternal. Ketersediaan ruang tersebut justru membuka peluang dialogis berbagai rekonstruksi dan transformasi kehidupan. Perjumpaan dan pergumulan tersebut telah membentuk daya pegas, sikap cerdik, maupun perkawinan ”cantik” agar kehidupan bersama dapat terus berlanjut terkelola secara selaras dan padu serasi.

Hempasan Gelombang Kuasa Ideologi

Beberapa dasawarsa terakhir, kehadiran dominasi kekuatan eksternal (global), termasuk seperangkat logika pikir yang terkandung dalam pengetahuan ilmiah telah berkembang menjadi gelombang sangat besar. Gelombang ini menghempaskan rajutan nuansa keselarasan dan keharmonisan dalam koridor pengetahuan lokal dan tata kelola kehidupan bersama di berbagai wilayah negeri ini. Ketika kekuatan eksternal telah berhasil menginternalisasikan logika pikirnya ke dalam sebagian besar kehidupan masyarakat, maka logika pikir yang terkandung dalam pengetahuan non-lokal (pengetahuan ilmiah) tersebut menjadi relatif dominan. Dalam konteks ini, kehadiran kekuatan eksternal dan perangkatnya tidak mampu terbendung dan terkendalikan, sehingga menghempaskan keberadaan pengetahuan lokal yang sarat dengan perpaduan akal dan budi.

Ruang perjumpaan antara berbagai komponen non-lokal dan lokal menjadi ajang penaklukan yang meluluhlantakkan rajutan berbagai komponen yang secara holistik menjadi mata rantai nuansa keselarasan, keseimbangan, dan keharmonisan kehidupan bersama. Perlu dipahami bahwa logika pikir lokal relatif berbeda dengan logika pikir non-lokal yang relatif kurang terintegrasi dengan kondisi geografis dan lingkungan sosial-budaya bangsa ini. Dominasi pengetahuan ilmiah hampir tidak memberi ruang atas keberadaan pengetahuan lokal. Ketika bangsa ini ditaklukkan oleh pasukan bangsa kolonial dengan fasilitas peralatan dan persenjataan yang lebih maju pada masa kolonial, maka bangsa ini menghadapi penaklukan ideologi oleh pasukan bangsa sendiri dewasa ini melalui dominasi pengetahuan ilmiah yang kurang mengakar kepada konteks kehidupan lokal. Pengetahuan lokal yang pada hakikatnya diperoleh dari berbagai pengamatan dan pengalaman kehidupan dalam jangka waktu relatif panjang sering kali tersingkirkan oleh pengamatan dan pengalaman kehidupan dalam jangka waktu relatif pendek dalam bingkai pengetahuan ilmiah. Manipulasi, eksploitasi, dominasi, dan pencapaian hasil secara instan relatif mengemuka dalam kenasan dominasi pengetahuan ilmiah yang berkelindan dengan politik kekuasaan.

Karakter harmonis bangsa yang diwariskan oleh leluhur bangsa ini memberikan pemahaman bahwa kehadiran pengetahuan ilmiah perlu dipadukan dengan keberadaan pengetahuan lokal secara padu serasi. Pengetahuan ilmiah akan menghantarkan kemajuan dan perkembangan kehidupan bangsa ini, namun perlu diberi koridor keselarasan agar kemajuan dan perkembangan bangsa ini dapat terajut dengan alur perkembangan kehidupan lokal. Bukan justru lepas dari landasan dan alur kehidupan lokal serta mengacu kepada perkembangan kehidupan non-lokal sehingga masuk dalam perangkap ketergantungan kepada perkembangan kehidupan global.

Kesimpulan, Saran, dan Rekomendasi

Tidak seharusnya keberadaan pengetahuan lokal dan kehadiran pengetahuan ilmiah dipertentangkan. Jurang pemisah dan dikotomi yang terjadi saat ini justru akan menghasilkan dominasi kekuasaan pengetahuan ilmiah atas pengetahuan lokal. Dalam konteks ini, keberlanjutan kehidupan bangsa ini sesuai dengan konteks kehidupan lokal relatif menjadi keluar dari rel kehidupan lokal dan masuk dalam perangkap dominasi bangsa lain yang hendak mendominasi kehidupan di muka bumi ini. Bahkan, dapat juga masuk dalam perangkap oligarki global sebagai bentuk kekuasaan politik dan ekonomi yang berada di tangan sekelompok kecil orang. Kelompok ini biasanya memiliki pengaruh kuat dalam politik dan bisnis, sehingga mempunyai kedudukan sosial yang tinggi dan kekayaan yang sangat besar. Pengetahuan ilmiah dapat berkelindan dengan kelompok tersebut ketika logika berpikir dalam pengetahuan tersebut lebih didominasi oleh akal, tanpa dilandasi dengan budi.

Tidak ada kata terlambat, bangsa ini perlu menggali dan menemukan kembali berbagai praktik kehidupan yang berlandaskan prinsip keselarasan agar dapat diformulasikan kembali sesuai konteks perkembangan kehidupan saat ini. Ketika perkembangan dan kemajuan kehidupan saat ini cenderung lebih mengedepankan hasil nyata (tampak secara fisik) dan cepat (instan) semata, maka pengenalan kembali rajutan keluhuran dan keharmonisan kehidupan bersama menjadi pengutamaan sebagai landasan dalam perkembangan dan kemajuan kehidupan yang semakin beragam. Perlu dipahami bahwa pengutamaan prinsip keselarasan akan menjadi lahan persemaian bagi rajutan benih- benih karakter kehidupan yang berasaskan kerukunan, kebersamaan, persaudaraan, penghargaan, toleransi, keberagaman, kelokalan, lintas wilayah, partisipatif, keberlanjutan, manfaat, kebebasan berekspresi, keterpaduan, kesederajatan, gotong royong, maupun asas-asas serumpun lainnya. Ranah pengetahuan lokal semacam ini dalam mempertahankan kelangsungan hidup manusia menjadi tugas dan tanggung jawab bangsa ini agar dapat terengkuh dalam perkembangan kehidupan saat ini maupun ke depan (lintas generasi).

 

Publikasi Terkait