Publikasi
Publikasi Kami

Gerakan Perempuan: Barikade Terakhir di Tengah Kemunduran Demokrasi
KOALISI Perempuan Indonesia (KPI) melaksanakan kongres VI di asrama haji pada 8–12 April 2026 yang dihadiri 819 peserta dari 25 provinsi. Itu adalah salah satu pertemuan para tokoh perempuan nasional terbesar beberapa tahun terakhir ini.
Mereka merasakan bahwa kita sedang dalam kondisi yang berat secara berlapis-lapis. Dan, yang membuat situasi ini lebih rumit adalah beratnya situasi itu tidak selalu terlihat dari luar.
Di permukaan, memang diakui ada kemajuan. Keterwakilan perempuan di DPR naik ke 22 persen, tertinggi sepanjang sejarah.
Lahirnya Undang-Undang Perlindungan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT), kebijakan kuota 30 persen, dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).

Honor the fallen, complete the mission and never retreat
Three coffins draped in the red-and-white flag arrived at Soekarno-Hatta Airport on Saturday evening, carrying the bodies of Capt. Zulmi Aditya Iskandar. Sgt. Muhammad Nur Ichwan and Pvt. First Class Farizal Rhomadhon. The three young Indonesians were killed while serving as United Nations peacekeepers in southern Lebanon.

Andrie Yunus dan Upaya Menyelamatkan Institusi Militer
Ada sebuah paradoks yang jarang dibicarakan dalam debat mengenai yurisdiksi peradilan militer: institusi yang paling vokal mempertahankan hak mengadili anggotanya sendiri justru kerap menjadi institusi yang paling besar menanggung kerugiannya. Bukan kerugian hukum. Kerugian yang jauh lebih mahal—legitimasi. Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, membawa kita ke titik persis paradoks itu.

Juwono Sudarsono: Sang Penjaga Epistemik
PENJAGA epistemik adalah orang yang hadir bukan untuk mengambil keputusan, melainkan memastikan keputusan yang diambil berangkat dari pertanyaan yang benar. Di dalam ruangan-ruangan tempat tekanan politik mendorong semua orang segera menandatangani apa yang ada, penjaga epistemik adalah satu-satunya yang tetap bertanya. Karena pertanyaannya tidak bisa diabaikan, semua ruangan bergerak mengikutinya tanpa selalu menyadari bahwa merekalah yang bergerak.

Politisasi Intelijen
POLITISASI intelijen adalah fenomena saat lembaga, informasi, analisis, operasi intelijen, dan produk intelijen lainnya diarahkan untuk kepentingan politik sempit, baik untuk mempertahankan kekuasaan maupun menyerang lawan politik. Bukan untuk kepentingan keamanan nasional yang objektif.

RUU PPRT: Ketika Konstitusi Berhenti di Depan Pintu Dapur
ADA yang lebih berbahaya dari ketidaktahuan: ketidakmauan yang menyamar sebagai ketidaktahuan. Selama 22 tahun, Indonesia tahu persis ada jutaan perempuan bekerja tanpa kontrak, tanpa jam kerja, tanpa jaminan sosial, tanpa hak atas tubuh mereka sendiri ketika kekerasan datang. Negara tahu. Namun, negara memilih untuk tidak bergerak.

AI war has arrived, but the revolution isn’t done
Two questions have shaped strategic debate since Feb. 28. Was Operation Epic Fury the first artificial intelligence war in history - a genuine break from every previous conflict - or merely the largest application of technologies militaries have been using for decades?

Bahaya Menjadikan Intelijen Alat Kekuasaan
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto bahwa ia akan menertibkan pengamat yang mengkritik pemerintahannya menjadi alarm bahaya untuk demokrasi kita. Tak hanya menunjukkan alergi terhadap kritik, pernyataan itu muncul berdasarkan data intelijen.

The anatomy of the Mideast war: 24 days that alter the nature of conflict
If there were a single turning point that fundamentally shifted the character of the war between Iran, the United States, and Israel, it was Saturday night, March 21—the 22nd day of the conflict. However, its full magnitude only became clear on the 24th day. Iran launched ballistic missiles at Dimona and Arad, two regions in the southern Negev located in close proximity to the Shimon Peres Negev Nuclear Research Center, a facility widely believed to house Israel’s illegal undeclared nuclear arsenal.

Perempuan di Peta Rawan Pangan
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan serentak ke Iran. Selat Hormuz, jalur yang menanggung sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia, praktis ditutup. Dalam hitungan jam, harga minyak Brent melonjak 13 persen.

