TILIK DATA Politik Media Sosial 2020

Penulis Ratu Dyah Ayu Gendiswardani, Diyauddin - Minggu, 14 Maret 2021
img

Ringkasan Eksekutif

Di tahun 2020, ada empat isu besar yang memiliki dampak signifikan terhadap dinamika politik pemerintahan Joko Widodo. Merujuk pada pantauan dan monitoring media sosial, isu Covid-19 mewarnai perbincangan, perdebatan dan pro-kontra ditengah masyarakat. Selain itu pengesahan Undang-Undang Omnibus Law menarik perhatian netizen yang cenderung bersentimen negatif. Isu Pilkada 2020 menjadi perbincangan netizen yang endurance nya terjadi sepanjang tahun. Yang terakhir adalah isu Muhammad Rizieq Shihab yang terkait dengan masalah protokol kesehatan dan penembakan enam laskar FPI oleh aparat keamanan. Keempat isu ini cenderung negatif ke pemerintah. Dalam konteks media sosial dapat dikatakan bahwa tahun 2020 adalah tahun Covid-19 dan Omnibus Law.

Beberapa isu yang juga menarik perhatian netizen pada dasarnya adalah turunan dari isu Covid-19 diantaranya isu Program Pemulihan Ekonomi Nasional/Stimulus Ekonomi, isu polemik dana Bantuan Sosial, isu PSBB/New Normal/Lockdown, dan perilaku blunder statement pejabat pemerintah diawal pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Selain isu Covid-19, beberapa narasi isu yang cenderung menarik atensi publik adalah tentang Jiwasraya, RUU HIP, Polemik Buzzer/Peretasan Akun, dan isu PKI/Komunisme.

Komparasi Isu Tahun 2020

Pendahuluan

Tahun 2020 merupakan tahun dimana Covid-19 menjadi narasi  yang paling dominan dan signifikan di jagad dunia maya. Hampir semua isu dengan eksposur tinggi merupakan imbas atau turunan dari berbagai masalah yang terkait dengan Covid-19. Meski begitu, narasi politik tetap mewarnai tahun 2020 dalam berbagai bentuk, bahkan Covid-19 menjadi arena tarung narasi politik yang cenderung dipolitisir. Pada titik ini isu Covid-19 mengalami politicking.

Sepanjang tahun 2020, isu yang muncul relatif cukup minimal jika dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan isu Covid-19 yang begitu besar disertai dengan endurance yang panjang. Kendati demikian, peta percakapan publik di media sosial masih dinamis dengan hadirnya isu-isu yang menyita perhatian publik. Bisa ditemukan bahwa, tahun 2020 mengalami anomali isu.

Setiap bulan terdapat isu yang dianggap signifikan dan akan dideskripsikan berdasarkan pola isu dan aktor melalui jagat cuit. Kemudian melihat total dan tren eksposurnya dari bulan ke bulan. Melalui jagat kata yang di-crawling, akan terlihat sub-isu dan narasi yang dimainkan para netizen melalui isu utama tersebut.  

Pada laporan tahunan ini pula ditemukan fakta adanya isu lain yang dijadikan masyarakat, utamanya pengguna media sosial sebagai atensi yang tinggi. Olehnya, kami menarik empat isu utama yang mewarnai percakapan publik di media sosial, yaitu; Covid-19, Omnibus Law, Kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) dan Pilkada 2020.

Pemilihan keempat isu di atas didasarkan pada beberapa indikator diantaranya volume eksposur yang sangat tinggi seperti isu Covid-19 dan Omnibus Law. Selanjutnya dengan indikator endurance isu yang cukup panjang seperti yang terdapat pada isu Pilkada 2020. Sementara isu kepulangan HRS disandarkan pada indikator spike isu yang tinggi dalam jangka waktu yang cukup pendek. Isu HRS mengalami spike maksimal hanya dalam rentan waktu dua bulan. Diasumsikan, isu tersebut cukup signifikan dan strategis dalam lanskap percakapan di media sosial.

Covid 19

Jejaring Percakapan

Bagan 1. Jagat Cuit

Berdasarkan hasil crawling jagat cuit, isu Covid-19 pada periode tahun 2020 dimainkan kurang lebih 4 juta akun dengan total tagar mencapai 456.778 tagar. Angka engagement akun atas isu ini sangat tinggi jika dibanding dengan isu-isu lain yan pernah dibicarakan di media sosial Indonesia. Latar belakang akun pun sangat variatif, namun kluster jagat kata memperlihatkan adanya modularity khusus yang didominasi oleh kluster akun pendukung dan kontra pemerintah pusat atau lebih tepatnya Presiden Jokowi. Terdapat juga akun-akun media online yang secara konsisten memberitakan soal Covid-19 lalu membagikan beritanya melalui kanal media sosial.

Pada modularity lain, terdapat kluster yang secara khusus mengkampanyekan perihal protokol kesehatan. Kluster ini didominasi akun-akun kepolisian dengan secara intens menggaungkan tagar selama masa pandemi (pertengahan tahun) untuk melakukan himbauan dan edukasi kepada masyarakat terkait protokol kesehatan. 

Trendline Eksposur

Bagan 2. Eksposur dan Aktor

Total eksposur isu Covid-19 mencapai 71 juta. Isu ini mulai secara drastis naik pada rentan peralihan bulan Februari ke bulan Maret. Pada bulan Februari, kasus Covid-19 belum ada di Indonesia. Isunya berkutat pada persiapan pemerintah jika seandainya Covid-19 ditemukan juga di Indonesia. Polemik di media sosial terjadi akibat adanya narasi-narasi blunder pemerintah yang terkesan meremehkan dan merecehkan perihal Covid-19. Pejabat setingkat menteri melemparkan lelucon kepada publik bahwa Covid-19 enggan masuk ke Indonesia dikarenakan birokrasi yang berbelit-belit.

Baru pada awal Maret, kasus pertama Covid-19 ditemukan. Pada periode ini, lonjakan percakapan mencapai 9,6 juta di media sosial. Sementara spike selanjutnya terjadi pada bulan Mei dimana warga net meributkan perihal pilihan pemerintah dalam menanggulangi penyebaran Covid-19, seperti pilihan lockdown, PSBB atau new normal.

Pasca Maret dan April, volum percakapan soal Covid-19 perlahan sudah menurun dan melandai pada bulan Juli hingga Agustus. Hingga akhir tahun eksposur Covid-19 terus mengalami penurunan. Hingga di bulan Desember vaksin telah didatangkan untuk dimulainya vaksinasi.

Melihat aktor yang menjadi amplifikator utama atas isu ini dominan berasal dari media online mainstream dan Presiden Jokowi.

Tagar

Bagan 3. Tagar

Sementara tagar yang sangat dominan digunakan netizen perihal isu Covid-19 adalah #Covid19 dan #dirumahaja. Tagar dirumahaja muncul sebagai imbauan solidaritas warga net untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Jagat Kata

Bagan 4. Jagat Kata

Berdasarkan jagat kata, narasi dan sub-isu yang mendominasi cukup beragam, mulai ekspresi keresahaan warganet hingga persoalan politik yang melibatkan polemik antara pemerintah pusat dengan Pemprov DKI Jakarta. Tenaga dan fasilitas kesehatan juga menjadi sentral isu yang tinggi diperbincangkan selama tahun 2020. Selebihnya mengenai kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan.

Omnibus Law

Jejaring Percakapan

Bagan 5. Jagat Cuit

Peta percakapan tentang Omnibus Law seperti yang tampak pada jagat cuit di atas. Kluster berwarna orange merupakan kluster penolak Omnibus Law. Secara persentase, kluster tersebut sangat mendominasi percakapan dengan 81,82 persen. Kluster ini diisi oleh kelompok aktivis dan kontra pemerintah. Akun tokoh berpengaruh seperti Hidayat Nur Wahid maupun influencer anonim kontra pemerintah semisal @podoradong ikut mempengaruhi kluster ini. Lalu ditambah juga dengan akun-akun aktivis yang selama ini dikenal cukup vokal mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah seperti Dhandy Laksono dan Lini ZQ. Sementara modularity pro Omnibus Law hanya 10 persen ditambah kluster kecil yang berasal dari akun-akun resmi pemerintah dan partai politik pendukung. Jika ditotal hanya mencapai 17 persen proposrsi percakapan.

Isu Omnibus Law dimainkan kurang lebih 754.057 akun dan 23.435 tagar selama tahun 2020. Pada network, nampak terlihat tagar kluster kontra Omnibus Law cukup dominan seperti #Jegalsampaibatal, #gagalkanomnibuslaw dan #dprripenghianat.  Mencermati bentuk jagat cuit, jarak antara klaster kontra dan pro cukup berjauhan yang dapat diasumsikan bahwa kedua kluster sangat minim dalam aktifitas engagement seperti debat atau saling reply. Masing-masing hanya memainkan narasinya dengan berbagai konten.

Trendline Eksposur

Bagan 6. Trendline dan Aktor

Pada tahun 2020, isu Omnibus Law mengalami spike pada bulan Oktober dimana RUU Omnibus Law disahkan DPR. Pada bulan ini, terkumpul total percakapan mencapai 6 juta. Sementara sepanjang tahun 2020, volume eksposur isu Omnibus Law mencapai 4,9 juta percakapan. Aktor yang cukup signifikan membicarakan perihal Omnibus Law berasal dari media mainstream, khususnya CNN, Tempo dan Tirto. Selain media, aktifis Watchdoc, Dhandy Laksono memiliki pengaruh yang cukup kuat di media sosial berkaitan dengan isu Omnibus Law.

Tagar

Bagan 7. Tagar

Sementara tagar yang paling sering digunakan oleh netizen perihal Omnibus Law adalah #GagalkanOmnibusLaw, #JegalSampaiBatal, #MosiTidakPercaya. Tagar yang terbaca secara keseluruhan merupakan tagar penolakan. Kendati intensitas tagar pendukung Omnibus Law juga tinggi akan tetapi secara volume dan engagement, sangat rendah.

Jagat Kata

Bagan 8. Jagat Kata

Adapun narasi dan sub-isu yang paling dominan adalah serangan kepada lembaga DPR yang mengesahkan RUU Omnibus Law. Sementara narasi pro Omnibus Law cukup rendah dipercakapkan jika dibanding dengan narasi penolakan yang ada. 

Habib Rizieq Shihab

Jejaring Percakapan

Bagan 9. Jagat Cuit

Isu HRS menjadi isu yang menarik perhatian publik pada periode akhir tahun. Berdasarkan pembentukan jagat cuit, terlihat bahwa kedua kelompok, baik pendukung HRS maupun influencer kontra HRS memiliki kedekatan posisi yang saling bertaut dan cukup dekat. Hal ini mengindikasikan adanya tweetwar atau perang narasi secara langsung antar keduanya.

Secara proporsi percakapan, kluster pro HRS lebih dominan dengan angka 54 persen. Sementara kontra HRS atau kluster yang didominasi influencer pro pemerintah hanya mencapai 42 persen. Secara keseluruhan, proporsi percakapan kedua kluster tidak memiliki gap yang jauh. Artinya, jika dibanding dengan peta percakapan Omnibus Law, maka isu HRS ini lebih menjadi konsen para influencer pro pemerintah dan punya amunisi narasi lebih luas dan banyak. Sepanjang 2020, Isu HRS dimainkan 98.668 akun dengan 4704 tagar.

Trendline Eksposur

Bagan 10. Trendline dan Aktor

Jumlah eksposur isu HRS selama satu tahun mencapai 2,2 juta. Pada tahun 2020, isu HRS sudah mulai naik dan terlihat pada bulan Maret, disaat HRS masih berada di Arab Saudi dengan total percakapan 153.125. Pada momen tersebut, HRS menyerukan penolakan darurat sipil yang pernah diwacanakan akan diterapkan dalam rangka penangan Covid-19. Spike isu terjadi pada bulan November saat HRS pulang ke tanah air. Kenaikan eksposur HRS terjadi lagi pada bulan Desember dengan serangkaian peristiwa diantaranya adalah penahanan HRS oleh pihak kepolisian dan peristiwa penembakan enam anggota FPI.

Sementara aktor yang menjadi influencer utama isu HRS berasal dari akun-akun berlatar belakang kontra pemerintah yang selama ini kerap melancarkan kritik terhadap pemerintah dan Jokowi, seperti @MCAOps, @Maspiyu., @Oposisicerdas Ada juga akun media online yang dijadikan amplifikator oleh pendukung HRS seperti @geloraco. Namun hal yang menjadi anomali adalah keberadaan akun @fadlizon; politisi Gerindra (partai pendukung pemerintah) yang sangat aktif dan berpengaruh dalam melakukan buzzing terhadap HRS.

Tagar

Bagan 11.Tagar

Tagar yang signifikan menyangkut HRS teridentifikasi tagar menyambut kedatangan HRS ke indonesia yakni, #AhlanwashlanIBHRS dan #WelcomeBackIBHRS dan beberapa tagar dukungan. Sama dengan narasi, terdapat juga tagar yang berkarakter menyerang HRS melalui FPI seperti #BubarkanFPI dan #FPIteroris

Jagat Kata

Bagan 12. Jagat Kata

Adapun isu signifikan yang berkaitan dengan HRS meliputi isu penurunan baliho yang melibatkan pangdam jaya, penembakan anggota FPI dan isu protokol kesehatan, revolusi akhlak . Selain isu glorifikasi dan kasus hukum, terdapat juga narasi yang menyerang HRS secara massif diantaranya isu fpi parasit. Kendati tidak menyerang HRS secara personal namun FPI dan HRS sudah merupakan satu kesatuan. 

Pilkada 2020

Jejaring Percakapan

Bagan 13.Jagat Cuit

Jika dibandingkan dengan jagat cuit beberapa isu sebelumnya, maka jagat cuit terkait pilkada lebih didominasi beragam warna. Hal ini menunjukkan bahwa kluster akun yang membicarakan tema pilkada lebih banyak, tidak sekedar dimainkan oleh akun-akun pro atau kontra pemerintah. Terdapat tiga kluster utama yang membicarakan isu pilkada 2020, yakni kluster-kluster pro pelaksanaan pilkada yang didominasi akun-akun pro pemerintah. Selain itu, terdapat juga akun-akun yang berlatar belakang Polri yang mengkampanyekan pelaksanaan pilkada dengan protokol kesehatan.

Sementara kluster yang menolak pilkada 2020, tidak hanya diisi oleh akun-akun kontra pemerintah akan tetapi juga akun yang tidak terafiliasi dengan kelompok tertentu seperti, @okkymadasar; penulis dan novelis. Hal ini disebabkan narasi penolakan pilkada cukup variatif. Selain masalah keberadaan Covid-19 juga perihal politik dinasti yang menyoroti Gibran Rakabuming dan Bobby Nasution yang maju di Pilwalkot Solo dan kota Medan.

Terdapat 381.507 akun yang mencuitkan kata pilkada sepanjang tahun 2020 dengan jumlah tagar sekitar 28.388 tagar. Sementara persentase percakapan, cukup didominasi kelompok yang menolak pelaksanaan pilkada dengan persentase 57 persen. Persentase percakapan pro pelaksanaan pilkada mencapai 20 persen. Jika diakumulasikan dengan kluster kepolisian, maka akan menghasilkan angka kurang lebih 26 persen.

Trendline Eksposur

Bagan 14. Trendline dan Aktor

Isu pilkada berdasarkan timeline eksposur cukup dinamis dengan total eksposur 2 juta. Kemunculan isu ini bermula pada bulan maret setelah ditetapkan oleh DPR mengenai penundaan. Sementara pada bulan Juli lebih isunya naik terkait poltik dinasti.

Melihat trendline eksposur, endurance isu pilkada konsisten dan cukup panjang diperbincangkan pada tahun 2020. Hal ini dilakukan oleh kluster akun-akun tertentu. Spike tertinggi isu ini terjadi pada bulan September dimana netizen menyerukan penundaan pilkada seiring naiknya kasus Covid-19. Justru eksposur pilkada tidak tereskalasi pada saat bulan pelaksanaa, yaitu bulan desember.

Aktor dan influencer berpengaruh pada isu ini pun cukup beragam, mulai dari akun kontra pemerintah. media online, pengamat, penulis. Berdasarkan aktor ini, influencer pro pemerintah tidak secara massif dan signifikan memainkan isu pilkada. Justru akun yang masuk sebagai influencer pro pelaksanaan pilkada berasal dari akun kepolisian, seperti @1trenggalek.

Tagar

Bagan 15. Tagar

Tagar yang terbentuk pada isu Pilkada berupa anjuran pelaksanaan pilkada dengan protokol kesehatan yang ketat. Tagar-tagar ini dominan dimainkan oleh akun terafiliasi dengan kepolisian.

Jagat Kata

Bagan 16. Jagat Kata

Narasi yang dominan berdasarkan jagat kata merupakan narasi protokol kesehatan. Dominasi isu protokol kesehatan secara masif dan kontinyu digaungkan di media sosial oleh pemerintah dan kepolisian. Selain isu protokol kesehatan, terdapat isu politik dinasti yang dalam jagat kata disebutkan “politik dinasti” dan “pilkada solo”.

Analisis Kualitatif

Komparasi Trendline Isu

Bagan 17. Komparasi Trendline Isu Tahun 2020

Sepanjang tahun 2020, peta pergerakan isu maupun percakapan di media  sosial mengalami anomali yang luar biasa. Anomali ini terjadi akibat adanya pandemi Covid-19 yang turut melanda dalam negeri. Selama keberadaan Covid-19, telah banyak mengubah lanskap kehidupan manusia tak terkecuali dinamika percakapan di media sosial.

Di tengah suasana pandemi Covid-19, tahun 2020 juga menyisakan momen-momen penting yang mendapat atensi warga net. Kendati begitu banyak isu yang muncul akan tetapi terdapat sejumlah isu yang secara indikator umum sangat berpengaruh. Terutama pada sisi politik-kebijakan nasional. Kami merangkum empat isu yang signifikan dipercakapkan netizen sepanjang 2020, yaitu Habib Rizieq Shihab (HRS), Covid-19, Omnibus Law dan Pilkada 2020.

Jika dibandingkan volume eksposur dari keempat isu di atas, maka secara visual bisa terlihat sebagaimana pada bagan Komparasi Isu Utama, data menunjukkan anomali yang disebutkan pada paragraf awal. Volum eksposur isu Covid-19 sangat tinggi dan mendominasi, hampir mencapai 80 juta percapakan. Tingginya eksposur ini dikarenakan hampir semua aktifitas masyarakat dikaitkan dengan Covid-19. Semenjak kehadiran media sosial di Indonesia, isu Covid-19 inilah yang meraih percakapan tertinggi.

Selanjutnya, isu yang sangat signifikan adalah Omnibus Law. Isu ini secara eksposur relatif tinggi jika dibandingkan dengan isu-isu kebijakan lainnya yang pernah tereskalasi di media sosial. Tingginya share of voice Omnibus Law salah satunya dikarenakan aksi kinetik di lapangan juga cukup tinggi dan intens. Hal ini dibarengi dengan meluasnya penggalangan opini melawan Omnibus Law di media sosial.

Jumlah eksposur isu Omnibus Law berada pada kisaran 7 juta (rinciannya ada pada penjelasan di bawah). Eskalasi isunya mengalami spike pada bulan Oktober disaat momen pengesahaan RUU Omnibus Law di parlemen. Dilanjutkan dengan isu HRS. Kepulangan HRS ke Indonesia memantik isu yang cukup dinamis. Spike atas isu ini terjadi pada bulan November, persis ketika HRS mengumumkan kepulangannya ke Indonesia. Keberadaanya di dalam negeri, memunculkan beragam isu baru, seperti kerumunan di bandara, acara maulid dan juga penembakan anggota FPI.

Volum percakapan HRS mencapai 2 juta hanya dalam rentan waktu dua bulan, November dan Desember. Angka 2 juta dalam dua bulan menjadikan isu ini tergolong isu yang cukup signifikan diperbincangkan di media sosial. Atensi netizen merespon isu HRS cukup tinggi terutama dari kalangan pendukung alumni pilpres 2019.

Yang terakhir isu pilkada 2020. Polemik terkait pilkada dimulai sejak kuartal pertama tahun 2020, saat pemerintah memutuskan untuk tetap menggelar pilkada pada tahun 2020 kendati mengalami penundaan ke bulan Desember. Dinamika yang terjadi menyangkut eksistensi Covid-19 yang dianggap akan menciptakan kluster baru.

Total eksposur percakapan pilkada selama tahun 2020 mencapai kurang lebih 2 juta percakapan. Selain perihal Covid-19, isu pilkada juga dikaitkan dengan majunya keluarga Presiden Jokowi di kota Solo dan Medan. Hal ini juga memantik percakapan warga net untuk menyuarakan aspirasinya di media sosial.

Persentase Isu Februari

Bagan 18. Persentase Isu Februari

Pada proporsi persentase keempat isu di atas, maka ditemukan isu Covid sangat tinggi mendominasi percakapan dengan persentase 98 persen. Sisanya 2 persen dibagi atas tiga isu, Omnibus Law, Pilkada dan HRS.  

 

 

 

Download Publikasi